• tes

Minggu, 05 Desember 2010

I. LATAR BELAKANG
Rheumatik bukan suatu penyakit, tetapi merupakan sydrom golongan penyakit yang menampilkan perwujudan sydrom cukup banyak, namun semuanya merupakan suatu persamaan ciri, menurut kesepakatan para ahli hematologi rematik dapat terungkap sebagai keluhan dan atau tanda dari kesepakatan dinyatakan ada 3 keluhan utama pada sistem muskulosektal yaitu; nyeri, kekakuan (rasa kaku dan kelemahan, serta ada tiga tanda utama, yaitu: pembengkakan sendi, kelemahan otot dan gangguan gerak (Surarto, 1982).

Rheumatik dapat terjadi pada semua umur dari anak-anak sampai usila, atau sebagai kelanjutan, sebelum usia lanjut dan gangguan rheumatik akan meningkatnya umur (Felson 1999, Sunarto & Wardoyo 1994).

Rheumatik yang sering tampak pada usila adalah: osteortitis, osteoporosis, terdinitis, gersitis, fibromyalagia, low back, pain, or to proty crystal bukan calcium phatose (BCP). Bout Artritis Rheumatoid, Polymyalgia, rheumatica dan artritis (Bjelle, 1994).


1.2 Sebab-sebab Gangguan Rheumatik pada Usila
Rheumatik merupakan syndroma, hingga saat ini lebih 100 macam penyakit yang diklasifikasikan golongan rheumatik pada usila sebab-sebab gangguan rheumatik dapat dikelompokan sebagai berikut:
Mekanik

- Penyakit sendi degeneratif (oteoastritis)

- Stenosis spiral

Metabolik

- Osteoporosis miyasdema penyakit praget

Kegarasan

- Antropati karsino matosa / neorominopati

- Dematomipatis osteoatropati hepar tropika

Pengaruh obat

Radang

- Polymalgia Rheumatika

- Temporal (giant cell) artritis

- Gout

1.3 Beberapa Rheumatik pada lansia

1.3.1 Osteo artritis
Disebut juga penyakit sendi degenaratif atau artritis hypertropi penyakit ini merupakan penyakit kerusakan hilan rawan sendi yang berlubang sangat berhubungan dengan lansia, secara klinis ditandai dengan nyeri defermitas, pembesaran sendi dan hambatan gerak pada sendi dan hambatan gerak sendi. Etiologi:

Tidak diketahui dengan pasti

Patofisiologi
Akibat peningkatan aktifitas enzim yang merusak makro molekul matriks H rawan, sendi (proteoglikan dan colagen) terjadi kerusakan tulang rawan secara progresif dan pembentukan H baru pada lesi H rawan sendi serta tepi sendi

(ostefit).


1.3.2 Artritis Rheumatoid
Artritis Rheumatoid, meskipun jarang dapat timbul pada lansi atau kelanjutan penyakit saat muda.
Artritis Rheumatoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama polyartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. Manifestasi klinis:

1. Kaku pada pagi hari (morning stifnes)

2. Artritis 3 daerah

3. Artritis pada persendian tangan

4. Artritis Simetris

5. Modul Rheumatoid

6. Faktor Rheumatoid serum positif

7. Terdapat perubahan gambaran radiologis


1.3.3 Gout
Dapat timbul sebelum usila, yang berlangsung sampai usila gout sering terjadi pada pria, Artritis gout adalah suatu syndrom klinis mempunyai gambaran khusus yaitu Artritis akut.


1.3.4 Pseuda Gout
Pseudo Gout merupakan saluran kristal kalsium pito prosphat pada sendi terutama pada lansia yang menimbulkan Artritis akut dan kronik.

Manifestasi Klinis:

Serangan mirip gout paling sering pada lutut, jarang pada ibu jari kaki

1.4 Asuhan Keperawatan

Diagnosa yang mungkin muncul pada lansia

1. Gangguan rasa nyaman (nyeri akut/kronik)

berhubungan dengan agen pencidera : biologik, fisik /psikologik (contoh:

spasme otot, penyakit sendi, usila anxietas)

Keluhan kaku s/d nyeri

Prilaku distraksi / melindungi

Perubahan trones otot: responden autonomik

Kriteria

Keluhan nyeri dapat dikontrol
Menampilkan keterampilan, relaxsasi dan aktifitas terapeutik sesuai indikasi relaksasi individu

Tampak rilek, mampu istirahat tidur dan beraktifitas sehari-hari

Intervensi
1. Kaji adanya kekakuan sendi sampai adanya nyeri, perhatikan intensitas, lamanya dan lokasinya

2. Perhatikan aktifitas mobilisasi ekstremitas

Contoh: ambilasi terapi fisik dan gerakan dan gerakan pasif


1.4.1 Gangguan pergerakan (kerusakan mobilisasi fisik) berhubungan dengan

nyeri keram (kekuan sendi)

gangguan muskulosektual

pembatasan pergerakan sendi ditandai dengan:

 kesulitan bergerak sesuai tujuan dalam lingkungan fisik

 rentang gerak terbatas: turunnya kekuatan / kontrol otot

Kriteria hasil / evaluasi
 mempertahankan posisi fungsi dibuktikan dengan tidak adanya kontraktur
 menunjukkan peningkatan kekuatan dan fungsi sendi serta tungkai yang sakit

Intervensi

1. Kaji tingkat pergerakan sendi
2. Pertahankan tirah baring awal dengan sendi yang sakit pada posisi yang dianjurkan dan tubuh.

3. Tingkatkan partisipasi

Contoh: pada lutut latihan, fleksi, ekstensi, ismetrik

4. Observasi pembatasan gerak berdasarkan keluhan

5. Dorong partisipasi aktifitas sehari-hari


Tidak ada komentar:

Posting Komentar